75 Tahun, Ahmad Albar Tetap Dikenang

  • Whatsapp

Radiomuara.id / Jakarta, 17 Juli 2021

Pada suatu hari, seorang pengusaha dari Jawa Timur pernah meminta Achmad Albar berdoa agar terhindar dari kebangkrutan. Disodorkannya sebuah botol berisi air putih, Berulang kali Albar menjelaskan bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki kemampuan seperti itu.

Karena si pengusaha, Albar terpaksa menerima botol tersebut. Beberapa saat kemudian terlihat mulutnya berkomat-kamit. Percaya atau tidak, bisnis si pengusaha bangkit lagi. Kisah yang mirip dengan jempol yang diceritakan oleh Ermanto, pengusaha kelapa sawit dari Jambi yang sekaligus sahabat Achmad Albar.

Masih ada lagi. Ketika rombongan Godbless tengah berada di Bandara Soekarno Hatta, Achmad Albar tiba-tiba saja mendapati dirinya dikelilingi sekelompok calon jemaah haji yang meminta doa keselamatan. Lagi, ia disodori air putih dalam sebuah botol. Tak ingin menarik perhatian pengunjung bandara yang ramai berseliweran, ia lantas berkomat-kamit (lagi). Setelah beres, rombongan itu lantas membubarkan diri. Ketika ditampilkan mantera apa yang dibacanya, Albar cuma mesem-mesem

Itu Surat Al Fatihah kok. Bukan mantra ” ujarnya

Hari ini, si pembaca “mantra” itu genap berusia 75 tahun. Sebuah usia yang bagi kebanyakan orang mengharuskan tinggal di rumah, duduk manis membaca surat kabar. Tetapi Albar, bersama Ian Antono (gitar), Donny Fattah (bass), Abadi Soesman (keyboard) dan Fajar Satritama (drum), justru tetap main band dengan Godbless. Nampaknya benar-benar bahwa seniman itu tidak pernah mengenal pensiun.

Lahir di Surabaya pada 16 Juli 1946, saya pertama kali menyaksikan sosoknya di atas panggung pada November 1983. Saat itu di Balai Sidang Jakarta (kini Jakarta Convention Centre) tengah berlangsung perhelatan All Indonesian Rock Star. Achmad Albar sesi ber-jam antara lain Ian Antono (gitar), Odink Nasution (gitar), Abadi Soesman (keboard), Yockie Suryopyago (keyboards) dan Jelly Tobing (drum) – sampai sekarang melihat dua nama terakhir ini tampil bareng cukup langka sebenarnya . Saya lupa repertoar total yang dibawakan Albar, tatapi ingat persis dua di antaranya adalah ” Time Again ” (Asia) dan ” Way Back to the Bone”(Rekstok gantung). Teriakannya yang menggelegar amat mengagetkan. Maklum selama itu suaranya hanya bisa didengar melalui album pertama dan Cermin. Dalam hal kualitas vokal, Indonesia memang harus bangga memiliki rocker sekaliber Achmad Albar.

Lebih dari 40 tahun berkarier, Albar termasuk seniman yang bisa diterima di kalangan luas. Saat menjadi personel band Bintang Remaja dan berhasil memenangkan festival band bocah di Jakarta, 1960, ia membawakan lagu bergenre pop. Beberapa single yang dihasilkan oleh Clover Leaf, bandnya semasa tinggal di Belanda, juga berirama pop. Padahal saat tampil di atas panggung membawakan musik keras. Itu sebabnya, ketika muncul wacana mengaransemen lagu-lagu Clover Leaf untuk dimasukkan ke dalam album Godbless, ia munculkan ulang. “Materinya terlalu ngepop,” katanya merendah. Lagu-lagu yang ditawarkan antara lain ” Time Will Show ”, ” Gray Cloud ” dan ” What Kind Of Man ”.

Popularitas Clover Leaf berhasil menembus Austria, Jerman, Luxemburg, Belgia serta beberapa negara tetangga lainnya. Sukses ini berkat single ” Don”t Spoil My Day “, ciptaannya bareng bassis Jack Verburgt. Band ini juga memiliki arti penting bagi kelahiran Godbless kelak. Saat itu gitaris Eugene den Hoed diri karena suatu alasan. Posisinya kemudian diganti oleh Ludwig Lemans. Nah , inilah yang diajaknya saat pulang Jakarta dan ikut membidani kelahiran Godbless.

Beberapa album solo Achmad Albar juga semakin dekat dengan musik pop. Termasuk ” Syair Kehidupan ” (Ian Antono), ” Dunia Huru Hara ” (Areng Widodo), ” Langkahkan Pasti ” (Fariz RM) atau ” Semestinya ” (Addie MS). Bahkan dalam salah satu albumnya solonya Albar pernah membawakan ciptaan Cecep AS, ” Risau ”, yang dikenal sebagai pencipta lagu mellow.

Achmad Albar juga tidak asing dengan musik dangdut. Pada 1979 ia merilis ” Zakia .” Album ini sempat bikin heboh karena muncul pada saat namanya tengah menjulang sebagai ikon musik cadas. Langkah yang boleh dibilang nekat namun Albar mengambil risiko tersebut karena alasan logis. Saat itu Godbless tak kunjung mendapat pekerjaan. Dalam situasi terjepit, musisi mana yang mampu menolak tawaran Rp 25 juta – angka fantastis untuk ukuran saat itu.

Toh meski menampilkan tabla bebunyian yang telah menjadi identitas dangdut, dimainkan seorang pemusik asal Pakistan, album ini berusaha menyusupkan elemen rock yang membedakannya dari kebanyakan album dangdut di pasaran. Salah satu lagunya, ” Raja Kumbang “, memperdengarkan kepada kita bahwa ada satu periode ketika Ian Antono layak disebut sebagai gitaris cepat. Ciptaan Albar dan Ian ini yang sangat populer di Malaysia dan hingga kini masih kerap diputar.

Kontroversi seputar album Zakia tak lantas membuat Albar kapok. Selanjutnya ia berduet dengan ratu dangdut Elvy Sukaesih. Kali ini penjualannya tidak begitu sukses. Ada dua kemungkinan. Publik sudah tidak merasa kaget lagi dengan karya Albar yang dianggap “keluar jalur” dan secara artistik musikalitasnya tak sefenomenal yang pertama.

Uniknya, kemunculan dua album dangdut ini tak lantas meruntuhkan citranya sebagai rock star. seperti Publik memaafkan. Terlepas dari pertimbangan ekonomi dari kemunculannya, saya sendiri lebih melihat album Zakia sebagai ekspansi kesenimanan Achmad Albar. Bukan kali ini saja Albar menciptakan kehebohan. Jauh sebelumnya, pada tahun 1978, ia pernah menyedot perhatian dunia panggung dan musik rock melalui duetnya dengan penilaian Ucok Harahap, vokalis band asal Surabaya yang kolaboratif itu.

Melalui dua album, Neraka Jahanam (1977) dan Pelacur Tua (1978), popularitas Duo Kribo seperti tak terbendung. Begitu terkenalnya sampai menarik perhatian perusahaan Interstudio untuk mengangkatnya ke layar lebar dengan judul sama. Disutradarai Edward Pesta Sirait, logika cerita sengaja ditabrakan. Jika di atas panggung diperlihatkan bagaimana kekompakan Albar-Ucok membangun kentotanan sebaliknya, sebaliknya dalam film bagaimana bersaing dalam persaingan bersaing ketat. Seperti biasa, alurnya diselang-seling oleh percintaan sebagai bumbu konflik. Untuk itu Eva Arnaz, simbol seks era ’70-an, dilibatkan sebagai pemeran Monalisa (diambil dari salah satu judul lagu dari album pertama). Film ini beredar bersamaan dengan album soundtrack-nya.

Duo Kribo non aktif setelah menyelesaikan tiga album studio, namun dengan awal mereka berhasil menciptakan inovasi transfer. Terbukti beberapa tahun kemudian lagu-lagunya direinterpretasi oleh sejumlah musisi generasi baru. Antara lain ” Tertipu Lagi ” (Nicky Astria), ” Neraka Jahanam ” (Boomerang dan Yovi Nuno) dan ” Discotheque ” (Seringai). Tentu saja warisan duet terbesar ini adalah ” Dunia Panggung Sandiwara ”, ciptaan Ian Antono dan sastrawan Taufik Ismail yang sampai kini telah menjadi lagu populer sepanjang masa. Nicky Astria ikut menikmati kesaktian lagu klasik ini setelah pada 1989 menyanyikan ulang ulang dengan judul ” Panggung Sandiwara “.

Achmad Albar juga terlibat dalam dua kali Pergelaran Karya Cipta Guruh Sukarno Putra. Ia tampil dan menyanyikan ” Peri Kemanusiaan ” dan ” Jenuh ”.

Fakta di atas mungkin menjadi jawaban mengapa dirinya tetap eksis selama empat dekade. Nama God Bless mungkin timbul tenggelam, namun Achmad Albar piawai menciptakan kelenturan yang menyebabkannya bertahan dalam berbagai situasi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *